Waspadai Ancaman Serangan Wereng Coklat

Hama wereng batang coklat sangat merugikan bagi petani padi (pertanian.go.id)

Wereng coklat merupakan hama pada tanaman padi yang penting dan mempunyai daya rusak yang tinggi sehingga sangat merugikan bagi petani padi.  Wereng coklat menyerang batang tanaman padi sehingga biasanya disebut juga sebagai wereng batang coklat (WBC).  Wereng batang coklat Nilaparvata lugens ini menyerang tanaman padi dengan menghisap cairan pada batang tanaman, berkembang biak dengan sangat cepat, dan cepat menemukan habitat barunya serta mudah beradaptasi dengan membentuk biotipe baru. 

Wereng batang coklat ini juga menularkan penyakit (vector) penyakit virus kerdil rumput (VKR) dan virus kerdil hampa (VKH).  Pada saat fase vegetative virus kerdil hampa  (VKH) menyebabkan daun rombeng, tercabik, koyak atau bergerigi, terkadang berwarna putih, tumbuh kerdil dengan tinggi 23,8 – 66,9 %; tertekan, keluar malai diperpanjang waktunya sampai 10 hari. Saat keluar malai tidak normal (tidak keluar penuh) daun bendera terjadi distorsi.  Saat pematangan buah tidak mengisi dan menjadi hampa (BPTP Jabar).

Hama wereng batang coklat (WBC) ini merupakan  bagian dari hama wereng, dimana hama wereng ini dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu wereng batang (plant hopper) dan wereng daun (leaf hopper).  Wereng batang terdiri dari wereng batang coklat (Nilaparvata lugens) dan wereng punggung putih (Sogatella furcifera), sedangkan wereng yang termasuk wereng daun antara lain wereng hijau (Nephotettix sp) dan wereng loreng (Recillia dorsalis).

Serangan Hama Wereng Batang Coklat

Wereng coklat mudah berkembang dan beradaptasi pada suasana lembab, oleh karena itu biasanya akan menyerang tanaman padi saat awal musim hujan atau pada musim kemarau tetapi masih ada hujan. Jika wereng coklat menyerang tanaman padi berumur 15 hari setelah tanam (HST),  hama wereng bisa membentuk dua generasi, sedangkan jika menyerang tanaman padi yang berumur sekitar 30 HST maka wereng hanya mampu hidup dalam satu generasi.  Populasi wereng satu generasi akan mencapai puncak saat satu bulan setelah terjadinya serangan.

Menurut BPTP Jabar, gejala yang tampak dari serangan wereng coklat dapat terlihat dari daun yang menguning kemudian tanaman mengering dengan cepat seperti terbakar (hopperburn).   Gejala yang tampak pada  hamparan tanaman padi, gejala hopperburn ini terlihat sebagai bentuk  lingkaran yang menunjukkan pola penyebaran wereng batang coklat yang dimulai dari satu titik kemudian menyebar ke segala arah dalam bentuk lingkaran yang meluas.  Meluasnya lingkaran ini disebabkan karena meningkatnya populasi wereng batang coklkat yang menyerang hamparan tanaman padi tersebut.

Pengamatan hama wereng dilakukan secara rutin dan intensif.  Jangka waktu pengamatan minimal 3 hari sekali dan jika ada gejala munculnya seranga wereng coklat segera dilakukan penghitungan populasinya. Apabila populasinya 7 sampai 9 buah wereng coklat per rumpun tanaman padi segera dilakukan pengendalian baik secara hayati maupun secara kimiawi (BPTP Jabar).

Pengendalian Hama Wereng Batang Coklat

Pengendalian hama wereng batang coklat perlu dilakukan sejak dini untuk menurunkan populasi wereng di pertanaman padi serta mencegah terjadinya ledakan populasi wereng.  Pengendalian yang paling effektif dilakukan pada saat wereng berada pada fase Generasi Pertama / G1 (umur tanaman padi 20-30 HST)  dan paling lambat pada Generasi Kedua / G2 (umur tanaman padi 30-60 HST), sedangkan pengendalian pada Generasi Ketiga / G3 (lebih dari 60HST) tidak akan berhasil dan menyebabkan kegagalan / puso.

Berbagai cara pengendalian wereng coklat dapat dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip pengendalian hama secara terpadu dengan menggabungkan beberapa metode pengendalian yang memungkinkan dan kompatibel.   Beberapa cara pengendalian hama wereng coklat yang dilakukan secara terpadu ini antara lain dengan menanam Varietas Tahan; Tanam serempak; Penggunaan Lampu Perangkap (Lihgt traps) dan Penggunaan Insektisida.

Penggunaan Varietas Tahan

Penanaman padi dengan varietas unggul tahan wereng direkomendasikan untuk daerah-daerah yang endemic serangan wereng coklat, beberapa varietas unggul telah dirilis untuk ditanam pada daerah-daerah ini antara lain Inpari 18, Inpari 19, Inpari 31, Inpari 33, Inpari Salin Agritan 34 dan Inpari Salin Agritan 35  yang tahan wereng coklat Biotipe 1 serta Inpari 18, Inpari 19, Inpari 31 dan Inpari 33 tahan terhadap wereng coklat Biotipe 1, 2 dan 3.

Tanam Serempak

Tanam padi secara serempak akan mengurangi perpindahan wereng coklat dari tempat yang satu ke tempat lainnya, dengan tanam serempak ini juga akan menurunkan populasi wereng pada hamparan pertanaman padi.

Pemasangan Lampu Perangkap (light traps)

Pasang lampu perangkap di pertanaman padi untuk mengetahui datangnya wereng imigran dan dapat menangkap wereng dalam jumlah yang besar.  Lampu perangkap dipasang pada ketinggian 150 – 250 centimeter di atas permukaan tanah.  Perangkap lampu wereng ini dapat menangkap sampai 400.000 ekor per malam.    Wereng yang terperangkap selanjutnya dimusnahkan dengan dipendam dalam tanah.  Lahan pertanaman padi selanjutnya agar dikeringkan sampai retak-retak dan selanjutnya dilakukan aplikasi pestisida dengan insektisida yang dianjurkan dengan bahan aktif pymetrozine dan atau dinotefuran.

Contoh pemasangan Lampu Perangkap /Light Traps (BB Padi Kementan RI)

Penggunaan Pestisida

Penggunaan pestisida merupakan alternative terakhir sesudah dilakukan pengendalian lainnya.  Penggunaan pestisida harus dilakukan secara hati-hati dan bijak untuk mengurangi dampaknya terhadap lingkungan maupun resistensi terhadap hama sasaran. Pestisida yang digunakan biasanya berbahan aktif  buprofezin, BPMC, fipronil dan imidakloprid.

Sebelum penggunaan pestisida lahan harus dikeringkan terlebih dulu, Aplikasi insektisida dilakukan saat air embun tidak ada, yaitu antara pukul 08.00 pagi sampai pukul 11.00, dilanjutkan pada sore hari. Insektisida harus disemprotkan sampai pada batang padi. 

 Beberapa cara pengendalian hama wereng tersebut dilakukan nsecara terpadu agar pengendalian  effektif untuk menekan populasi wereng dipetakan sawah.   Keberhasilan pengendalian hama wereng coklat di lapangan  selain dilakukan secara terpadu dengan berbagai metode pengendalian, juga ditentukan oleh  pengamatan / monitoring hama secara rutin dan intensif.  

Pengamatan atau monitoring hama wereng harus dilakukan secara rutin dan intensif.  Pengamatan dilakukan paling tidak dalam waktu antara 3-7 hari sekali.  Sampel diambil secara diagonal sebanyak 20 rumpun padi sampel.   Beberapa ahli menyatakan jika jumlah wereng antara 7-9 ekor harus segera dilakukan pengendalian, sementara yang lainnya  menyatakan populasi 2-5 ekor per rumpun tergantung daerahnya (jika endemic wereng berarti lebih rendah lagi).  Sedangkan menurut Direktorat Pupuk dan Pestisida, Kementerian Pertanian Republik Indonesia ambang pengendalian wereng coklat adalah apabila ada 1 ekor imago per tunas dan 10 ekor nimfa per rumpun pada petak sampel serta 5 ekor imago per rumpun pada stadium generative.

Dengan berbagai tindakan pengendalian di atas maka serangan hama wereng coklat atau wereng batang coklat (WBC) dalam jangka pendek dapat dikurangi sehingga tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi petani padi.  Keberhasilan pengendalian hama wereng batang coklat selain ditentukan oleh tindakan pengendalian hama secara terpadu juga ditentukan oleh perbaikan ekosistem / lingkungan sehingga keseimbangan lingkungan dapat dijaga dengan baik sehingga dalam jangka panjang dapat mengurangi risiko terjadinya ledakan populasi hama wereng batang coklat ini. (admin)

264 thoughts on “Waspadai Ancaman Serangan Wereng Coklat

  1. Rosalyn

    Its like you read my mind! You appear to
    know a lot about this, like you wrote the book in it or something.
    I think that you could do with a few pics to drive the
    message home a bit, but instead of that, this is great blog.
    A great read. I will certainly be back.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *