Arsip Bulanan: Desember 2019

Penggerek Batang Padi dan Pengendaliannya

Kupu-kupu dewasa (imago) dan penggerek batang padi

Hama penggerek batang padi (stem borrer) merupakan salah satu utama yang penting yang  menyerang tanaman padi di sentra –sentra padi di Indonesia. Selain tikus dan wereng coklat, hama penggerek batang menjadi hama tanaman padi yang perlu mendapat perhatian serius karena daya rusaknya yang tinggi dan sebarannya yang luas.  Hama penggerek batang padi ini  beberapa tahun terakhir pernah menjadi hama tanaman padi paling merusak di Indonesia.

Menurut Bali Besar Penelitian Tanaman Padi (BBPADI), Badan Litbang Kementrian Pertanian RI, penggerek batang padi  dapat menyerang semua stadium pertumbuhan tanaman padi.  Serangan pada stadium vegetative menyebabkan kematian anakan (tiller) muda yang disebut dengan nama “sundep” (deadhearts).  Serangan penggerek batang padi pada stadium generative menyebabkan malai tampak berwarna putih dan hampa yang biasanya disebut dengan nama “beluk” (whiteheads).  Kerugian hasil yang disebabkan setiap persen gejala beluk berkisar antara 1 – 3 % atau rata-rata 1,2 %.

Baca selanjutnya

Waspadai Ancaman Serangan Wereng Coklat

Hama wereng batang coklat sangat merugikan bagi petani padi (pertanian.go.id)

Wereng coklat merupakan hama pada tanaman padi yang penting dan mempunyai daya rusak yang tinggi sehingga sangat merugikan bagi petani padi.  Wereng coklat menyerang batang tanaman padi sehingga biasanya disebut juga sebagai wereng batang coklat (WBC).  Wereng batang coklat Nilaparvata lugens ini menyerang tanaman padi dengan menghisap cairan pada batang tanaman, berkembang biak dengan sangat cepat, dan cepat menemukan habitat barunya serta mudah beradaptasi dengan membentuk biotipe baru. 

Wereng batang coklat ini juga menularkan penyakit (vector) penyakit virus kerdil rumput (VKR) dan virus kerdil hampa (VKH).  Pada saat fase vegetative virus kerdil hampa  (VKH) menyebabkan daun rombeng, tercabik, koyak atau bergerigi, terkadang berwarna putih, tumbuh kerdil dengan tinggi 23,8 – 66,9 %; tertekan, keluar malai diperpanjang waktunya sampai 10 hari. Saat keluar malai tidak normal (tidak keluar penuh) daun bendera terjadi distorsi.  Saat pematangan buah tidak mengisi dan menjadi hampa (BPTP Jabar).

Baca selengkapnya